Guree.id, Lhokseumawe, 18 Februari 2020, Setiap lembaga atau organisasi harus melakukan analisis efisiensi baik internal maupun eksternal. Berbicara efisiensi ada pengalaman yang sangat berkesan 16 tahun yang lalu ketika saya kuliah Manajemen Perencanaan Pendidikan yang diasuh oleh Prof. Jam'an dari UPI. Giliran saya mempresentasikan Efisiensi Internal di hadapan 80 orang mahasiswa PPS UNSYIAH yang dominan Kepala sekolah, Saya memberi pendapat tentang pengendalian keuangan salah satu cara meningkatkan efisiensi internal dengan membuat buku kas harian internal, artinya buku kas tersebut sebagai instrumen untuk mengendalikan keuangan sekolah. Sementara Laporan penggunaan anggaran  sesuai dengan Juknis. Kita ketahui bersama bahwa dana rutin DBO pada waktu itu yang sekarang BOS sangat terbatas penggunaannya dan sesuai dengan juknis dari Kementrian. Maksud terbatas, tidak mungkin jasa kurir Rp 30.000, ada mata anggaran tersendiri dan pengeluaran lainnya yang mungkin puluhan macam. Belum selesai saya bicara seorang teman mahasiswa bangun dan menyanggah argumen saya, ia berkata tidak mungkin di sekolah negeri di buat seperti itu, saya tahu bapak dari swasta, diskusi menjadi panas dan distop oleh Profesor. 

Kasus di atas contoh kecil bahwa masih alergi untuk melakukan efisiensi dalam suatu organisasi. Saya tidak mengajari tupai melompat dalam hal efisiensi karena setiap pimpinan memiliki seni tersendiri. Secara umum analisis efisiensi adalah untuk mendapatkan gambaran keadaan keuangan pendidikan secara menyeluruh dan pengeluaran biaya pendidikan pada tingkatan sekolah setiap tahun anggaran. Yang tujuannya adalah memberi masukan kepada pengambil keputusan mengenai efisiensi pendayagunaan berbagai sumber keuangan pendidikan, alokasi anggaran, serta peningkatan pengeluaran pendidikan yang benar-benar efektif. Bendahara  memiliki peran yang sangat strategis melakukan efisiensi di sekolah, fungsi bendahara tidak sebatas hanya pemegang kas tetapi harus menginformasikan kepada pimpinan jika ada hal yang mengenakan inefisiensi. 

Efisiensi Internal  dapat dilakukan jika diawali dengan Analisis Efisiensi terlebih dahulu. Analisis efisiensi internal adalah suatu model analisis yang bertujuan untuk melakukan kajian apakah sistem pendidikan sudah berjalan efisien dilihat dari pendayagunaan dan pengelolaan berbagai sumber dayanya sehingga sistem pendidikan dapat meningkatkan produktivitasnya. Analisis efisiensi internal sepenuhnya sangat bergantung pada berjalannya sistem pendidikan secara teknis tanpa mengaitkan sistem pendidikan dengan sistem lain dalam berbagai bidang kehidupan. Analisis efisiensi internal pendidikan diantaranya adalah analisis arus murid pendekatan kohort (student flow model) dan analisis aktivitas biaya (cost effectiveness model).

Secara operasional efisiensi internal pendidikan dapat diukur dengan menggunakan indikator-indikator efisiensi, baik secara kuantitatif yaitu tingkat mengulang kelas, tingkat kelulusan, tingkat putus sekolah, lama penyelesaian studi, dan angka siswa bertahan, sedangkan indikator kualitatif adalah berupa Kemajuan individual siswa (motivasi, prestasi siswa, kecakapan, keterampilan, latar belakang keluarnya, dan lain-lain) dan Karakteristik sekolah (ruang kelas, guru-guru, teman-teman bermain). Efisiensi internal berkaitan erat dengan efisiensi ekonomis terutama dalam hal biaya rata-rata yang dipakai untuk menghasilkan setiap unit lulusan pendidikan. Dengan standar mutu dapat dipertahankan, efisiensi internal yang tinggi akan menurunkan biaya rata-rata per peserta didik dan biaya rata-rata per lulusan (Ace Suryadi).

Angka putus sekolah

Angka putus sekolah dan mengulang kelas yang tinggi disebabkan banyak faktor antara lain biaya pendidikan tidak terjangkau, yang lebih menarik untuk dikaji mengapa ada siswa yang harus mengulang dan tidak lulus, dalam kapasitas ini siapa yang salah? ada sebagian pada guru, proses belajar mengajar tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kalau anak didik dibimbing selama setahun penuh dengan sungguh-sungguh tidak ada istilah siswa mengulang atau tidak lulus meskipun ada, memang betul-betul siswa tidak mampu dari segi Kognitifnya, dalam hal ini guru juga punya peran dalam menekan biaya rata-rata yang dikeluarkan oleh sekolah per lulusan. Jika ada siswa yang tidak naik kelas dan tidak lulus, ini bisa menghambat siswa lain untuk menempati posisi siswa yang mengulang. Ditinjau dari segi pengeluaran biaya, ini terjadi pemborosan. Tulisan ini hanya untuk menambah wawasan penulis, bukan sebagai referensi, jika berkenan mari kita diskusi.