Jumlah  penduduk Indonesia pada tahun 2045 diperkirakan mencapai 320 juta jiwa. Angkatan kerja mencapai 64 %  atau 200 juta orang. Ini merupakan bonus demografi Indonesia jika itu terjadi. Dengan kondisi demikian merupakan tantangan bagi pemerintah dan dunia pendidikan khususnya dalam mempersiapkan generasi milenial menjadi generasi yang memiliki kompetensi HOTS. Generasi yang dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Generasi yang Religius, Nasionalis, berjiwa gotong royong, mandiri dan memiliki integritas yang tinggi. Generasi emas 2045, generasi yang berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. 

Mencermati kondisi hari ini yang jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai  140 juta orang, bagaimana di tahun 2045 yang jumlah angkatan kerja diperkirakan mencapai 200 Juta orang.  Apakah generasi Indonesia sudah siap bersaing di bursa kerja global, apakah kurikulum pendidikan kita sudah relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan industri. Apakah rasio angkatan kerja dengan lapangan kerja berbanding lurus atau berbanding terbalik. Semua stakeholder pendidikan harus serius memikirkan hal tersebut, jika tidak generasi milenial Indonesia hanya sebagai generasi penonton di Negeri sendiri. 

Peran Perguruan Tinggi, Jumlah program Studi yang tersebar di Perguruan Tinggi apakah sudah sesuai dengan kebutuhan bursa kerja, ya tentu masing-masing perguruan tinggi memiliki visi dan misinya mengantarkan alumninya menjadi outcome dan multiplying effect dalam berkiprah. Perguruan Tinggi harus bisa melahirkan alumni yang bersertifikat Internasional dari sisi skill dan berakhlakul karimah, menjunjung integritas. 

Peran guru, guru sebagai praktisi pendidikan yang menyentuh langsung dengan peserta didik harus melakukan berbagai inovasi dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang mendorong peserta  didik    untuk memiliki  kemampuan berpikir lebih    tinggi    (Higher Order    Thinking Skill = HOTS). Generasi yang kita didik hari ini akan menjadi penentu dan pengambil kebijakan di masa yang akan datang. Pembelajaran yang bermakna yang mengantarkan peserta didik yang kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif.  Pembelajaran yang menitikberatkan kepada keseimbangan antara karakter dan kognitif. Banyak anak pintar dan jenius tapi akhlaknya nihil, tetapi yang kita butuhkan adalah generasi yang jujur dan terampil serta profesional. Semua itu bisa terwujud Insha Allah jika semua kita peduli. 

Lhokseumawe, 3 Maret 2020

by:guree.id