Guree.id, Lhokseumawe, 12 Maret 2020

Setiap pagi saya keliling memantau proses pembelajaran di kelas, hampir semua kelas saya masuk untuk memberi motivasi kepada peserta didik. Saya ingin mengetahui tentang minat baca siswa. Saya bertanya, siapa diantara kalian yang ada  membaca tadi malam, baca apa saja, ayo acungkan tangan. Apa yang terjadi, tidak ada satupun siswa yang membaca di rumah. Beralih ke ruang yang lain diperoleh jawaban ada 2 orang siswa yang membaca buku cerita. Kondisi ini sangat miris dan memprihatinkan, mengapa dan penyebabnya apa sehingga siswa tidak termotivasi untuk membaca. Berdasarkan fakta  diatas saya berasumsi bahwa sekolah lain yang memiliki karakteristik yang sama dengan sekolah saya juga tidak jauh berbeda. Yang lebih miris lagi ada siswa selama satu semester tidak membaca sama sekali tentang materi pelajaran. 


Membaca dan menulis merupakan literasi yang sangat mendasar yang harus dimiliki oleh semua orang, idealnya seperti itu. Tetapi mengapa siswa kita malas membaca dan menulis bukankah membaca dan menulis kita mengerti.  Bagaimana dengan siswa sekolah anda apakah sama atau apa kiat untuk mendorong siswa agar membaca dan menulis menjadi kebutuhan. Ini menjadi tantangan bagi kita dalam menggerakkan literasi di sekolah. Data dari UNESCO pada tahun 2016 minat baca bangsa Indonesia 0,001 %, artinya 1 orang yang membaca setiap 1000 orang. Data tersebut secara generalisasi  untuk penduduk Indonesia, dan sangat sedih memang, karena Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 Negara yang disurvei untuk minat baca. Untuk tingkat siswa bisa jadi lebih sedikit, dan perlu survei untuk kepastiannya berapa persentase siswa sadar membaca dan apa yang dibaca. Kegiatan membaca membuat siswa akan paham dan mengerti apa ia baca. Jika siswa tidak menguasai literasi membaca akan susah mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. 


Pemerintah dalam hal ini Kemdikbud mengeluarkan Permendikbud nomor 23 tahun 2015 tentang penumbuhan  Budi Pekerti harus dialokasikan waktu minimal untuk membaca setiap hari. Perintah membaca dalam Al-Quran Surat Al-'Alaq, ayat 1-5
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّك الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5) Terjemahannya sebagai berikut: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.


Banyak cara yang dilakukan oleh teman sekolah lain dalam menggerakkan Literasi semisal: membaca 10 menit sebelum belajar, ada sudut literasi kelas, pojok baca di luar kelas, adanya mobil pustaka, adanya jum'at menulis bagi guru tentang proses pembelajaran selama satu minggu. 

Program literasi yang akan kami jalankan di sekolah dengan cara:

  1. wajib baca Juzamma 10 menit sebelum belajar pagi dan setor;

  2. Wajib berkunjung perpustakaan 2 jam per minggu dipandu oleh guru, kegiatan membaca apa saja dan wajib menyetor ringkasan bacaan. Bagi guru pendamping juga diwajibkan membaca dan menulis proses pembelajaran dan praktek yang baik selama satu minggu;

  3. Kumpulan resensi buku oleh siswa akan dijadikan satu atau dua buku;

  4. Kumpulan tulisan guru akan dijadikan sebuah buku;

Begitu rencana yang akan kita laksanakan, mudah-mudahan target tercapai Insha Allah. Semoga membaca dan menulis menjadi kebutuhan kita bukan karena terpaksa. Karena tidak mungkin bisa Literasi lain seperti Literasi Digital, Literasi Numerasi,  literasi sains, literasi finansial, dan literasi budaya jika belum bisa berliterasi baca tulis.

Ayo membaca, ayo menulis apa yang kita baca dan ayo berdiskusi tentang topik yang kita baca. Mulailah sekarang juga untuk membaca dan kepada orang tua dan guru berilah motivasi kepada anak dengan memberi contoh bahwa kita juga membaca. Kami tunggu saran dan kritikan sahabat pendidikan semua.