Guree.id, Lhokseumawe,17 Mei 2020, Selamat dan sukses selalu bagi kita semua, semoga menjadi orang yang bersyukur atas karunia rahmat dan nikmat Allah.

Jika ada seorang pengemis datang kepada anda meminta minta, coba tanya berapa cukup, kira-kira apa jawabannya. Dan saya sudah praktekkan, pengemis diam tanpa kata dan memperlihatkan ekspresi rasa malu. Tapi jika anda berurusan dengan oknum  aparatur negara apakah mengurus persoalan pribadi atau lembaga tidak jarang kita ditawarkan berapa persen atau sekian biar saya urus punya bapak.

Dari kasus diatas mental pengemis lebih bagus dari mental seorang pelayan masyarakat atau abdi negara. Seorang pengemis memang miskin bahkan fakir tapi dia masih punya hati tempat bersarangnya malu. Pengemis itu masih punya perasaan tidak enak jika harus menjawab berapa yang dia mau. Seorang abdi Negara, sebagai pelayan masyarakat, mentalitas jauh di bawah pengemis yang fakir. Korupsi, kkn dan kolusi terjadi di mana mana dan kapan saja sudah seperti berjamaah saja. 

Walaupun tanpa ada embel-embel, pelayanan kurang merupakan buruk juga mentalitas oknum tersebut. Mungkin sahabat juga pernah merasakan di lingkungan kerja masing-masing dan juga ketika berurusan dengan lintas sektor terkait. 

Menurut kamus besar bahasa Indonesia Mentalitas berarti keadaan dan aktivitas jiwa batin, cara berpikir, dan berperasaan tentunya pada seorang anak manusia. Mentalitas baik, berarti seseorang memiliki perasaan dan aktivitas jiwa yang baik, sehingga dapat menghakimi mana yang baik dan yang buruk ketika terjadi koneksitas dengan pikiran yang sehat.

Memberikan pelayanan tugas dan kewajiban kita selaku abdi negara, bukankah kita sudah diangkat sumpah sebagai pelayan dan bukan orang yang meminta dilayani. Jadilah pribadi yang menyenangkan bagi orang yang kita layani, semoga menjadi nilai ibadah di sisi Allah. 

Demikian yang dapat saya bagikan kali ini, tetaplah bersama Guree.id semoga bermanfaat.