GUREE.ID, LHOKSEUMAWE, 24 Juli 2020 , Assalamualaikaum Warahmatullahi Wabarakatuh, Manusia menjadi faktor penting dalam pendidikan, karenanya ia sering ditempatkan sebagai subjek didik, bukan sebagai objek, engapa manusia (anak didik) perlu diposisikan sebagai subjek didik?


Belajar merupakan suatu aktifitas yang dilakukan seseorang yang menyebabkan adanya perubahan tingkah laku di bidang pengetahuan, keterampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap. Menurut Paulo Freire (2002) belajar merupakan pekerjaan yang cukup berat yang menuntut sikap kritis dan kemampuan intelektual yang hanya dapat diperoleh dengan praktik langsung.

Peserta didik bukanlah objek tetapi harus bisa ditempatkan sebagai subjek  dalam proses belajar mengajar.

Berpijak kepada uraian di atas bahwa sangat tepat peserta didik harus diposisikan sebagai subjek, yaitu anak didik harus diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengemukakan ide, berkreatifitas, berinteraksi dengan lingkungan demi memperoleh pengalaman-pengalaman belajar yang baru. Anak didik bukanlah bejana  kosong yang bisa diisi dengan bermacam jenis air, tetapi pada anak didik terdapat energi potensial yang harus dirubah menjadi energi kenetik. Untuk merubah, membangkitkan potensi/kapasitas yang ada pada siswa adalah tugas guru. Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan, alat-alat dan ide-ide untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan (Nana Syaodih Sukmadinata : 2001).


Pelaksanaan pendidikan di sekolah selama ini masih banyak pendidik yang memperlakukan siswa sebagai objek, tidak melihat siswa sebagai subjek artinya apa, potensi anak didik tidak dikembangkan secara optimal. Jadi Human Capacity Diveloment sangat menentukan peserta didik membentuk pola fikir, bernalar untuk memecahkan suatu persoalan.


Kenyataannya sekarang kita lihat di sekolah, belajar itu seperti tidak punya makna sama sekali, daya serap anak didik jauh seperti yang diharapkan, ada guru yang hanya sekedar memberi hafalan kepada peserta didik. Peserta didik mencatat apa yang ada di papan tulis baris demi baris yang kadang kala apa yang dihafal dan ditulis itu tidak tahu apa artinya sama sekali, ini  disebabkan  tujuan siswa belajar untuk memperoleh nilai bukan untuk menambah ilmu pengetahuan, begitu ujian selesai hafalanpun terbang tidak berbekas dan berkesan.  Proses pembelajaran yang demikian harus dihindari dan mari kita adakan reformasi dibidang tersebut. Belajar bukanlah mengkonsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide (Paulo Freire : 2002)

   

Bukti-bukti emperis praktek pendidikan di sekolah yang memposisikan siswa sebagai subjek didik dapat terjadi di laboratorium dan ruang kelas. Sebagai contoh dalam pemecahan suatu masalah siswa harus diaktifkan dengan pertanyaan-pertanyaan berupa konsep, pengertian dan prinsip atau dengan metode diskusi dan tanya jawab merupakan bukti yang memposisikan siswa sebagai subjek didik.

Tulisan ini untuk mengingatkan kita kembali pada posisi siswa sebagai peserta didik.

Demikian, semoga dapat menjadi motivasi bagi penulis dan sahabat guree.id