GUREE.ID, LHOKSEUMAWE, 3 Juli 2020, Jumlah Perguruan Tinggi Swasta di Indonesia sekitar 4.500, angka ini sangatlah besar jika dibandingkan dengan PTN yang hanya 93.  Berbagai keunggulan sebagai  BRANDING Kampus ditawarkan kepada calon mahasiswa. Mulai dari Beasiswa dan kelas Internasional menjadi pilihan yang menarik bagi calon mahasiswa. Namun demikian masih banyak PTS yang dijadikan pilihan terakhir oleh calon mahasiswa, setelah mereka tidak lulus di jalur mandiri SNMPTN, SBMPTN atau jalur Mandiri pada PTN. 


Masih banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang jumlah mahasiswa berkecukupan, karena persaingan dalam menarik minat dan animo masyarakat cukup ketat. Fenomena ini pada tingkat Sekolah Tinggi, dan apalagi lokasinya di daerah yang calon mahasiswa berasal dari masyarakat lokal saja.


Mahasiswa Sebagai Aset Kampus

Karena sulitnya menarik calon mahasiswa, nah ketika sudah menjadi mahasiswa di PTS perlakukanlah mereka sebagaimana mestinya, saya mau katakan bahwa Kampus itu ada, karena ada Mahasiswa, jadi mahasiswa ini sebagai aset yang harus dijaga dan diurus dengan baik. Penuhilah hak-hak mahasiswa semisal jam tatap muka terpenuhi, baik durasi maupun   jumlah pertemuan.

Mahasiswa berhak mendapatkan bimbingan akademik dari dosen walinya demi pencapaian prestasi yang maksimal dan target nilai IPK minimal 3,0.

Pihak manajemen Kampus harus melayani kebutuhan mahasiswa,  dan harus peka terhadap permasalahan yang dihadapi mahasiswa. Sekecil apapun masalah mahasiswa harus segera diselesaikan supaya jangan berdampak. Mahasiswa adalah aset harus ditangani dengan manajemen yang baik. Kepentingan mahasiswa adalah skala prioritas berikan hak mereka dengan pelayanan prima dan tunjukkan pelayanan mahasiswa di atas rata-rata standar. 


Sering terjadi permasalahan di PTS, seperti yudisium  dan wisuda yang sering terlambat karena harus menunggu cukup kuota. Menunggu ini yang jadi masalah, kenapa, satu menit mahasiswa terlambat selesai proses administrasi, satu menit pula peluang hilang. Makanya jika bisa dipercepat kenapa harus diperlambat, kenapa harus menunggu. Pihak manajemen harus super cerdas dalam menghitung dan memprediksi serta menganalisa dengan mengedepankan kepentingan mahasiswa, tidak berpikir untuk kampus, kampus itu ada karena ada Mahasiswa ini yang tidak boleh dilupakan. Jika penanganannya dilakukan dengan musyawarah dan menerima masukan, tidak ada masalah yang tidak selesai.


Demikian yang dapat saya bagikan saat ini, semoga bermanfaat dan ini hanya observasi penulis, jika berbeda mari kita diskusikan. 

By: GUREE.ID