Branding Sekolah Dan Calon Siswa Baru


GUREE.ID, LHOKSEUMAWE, Setiap akhir tahun pelajaran dan awal tahun pelajaran Sekolah Menengah Atas (SMA) berebut peserta didik baru. Banyak sekolah yang tidak  memenuhi target penerimaan siswa baru. Fenomena ini disebabkan oleh beberapa hal antara lain,

1. Jumlah Output dari SMP/MTS yang berkurang; 

Jumlah lulusan SMP/MTS berkurang bisa jadi angka kelahiran yang berkurang untuk usia lulusan SMP, 

2. Minat siswa tren ke SMK dan Pesantren atau Dayah Modern;

Berbicara minat dan bakat siswa, ini faktor yang paling penting dalam memilih jenjang pendidikan. Lulusan SMP belum ada pendirian ia cenderung kemana melanjutkan sekolah, ia masih labil. Dalam kondisi demikian butuh kehadiran orang tua untuk mengarahkan kemana si buah hatinya akan sekolah. Sekolah umum yang boarding, pesantren salafi, Pesantren terpadu, SMK, MA atau SMA Reguler.

Menyikapi kondisi lingkungan yang sangat buruk, cenderung memilih sekolah boarding, atau pesantren salafi begitu kata beberapa orang tua. Alasan sangat jelas jika  anaknya di asrama paling tidak putus mata rantai pergaulan yang tidak jelas, nongkrong dan main game di Cafe. Orang tua pusing yang penting aman. Anan bagi orang tua belum tentu nyaman bagi anak, Walaupun usia masih labil tetapi kecenderungan anak kemana mesti terbaca. Untuk itu perpaduan bakat dan minat perlu diskusi dengan anak, jangan sekali-kali paksa anak harus begini, berilah pengertian yang mendalam jika perlu gunakan jasa psikolog. Saya yakin Ayah dan Ibu magister psikolog bagi anaknya. Pilihan tahun bersama, mulai dari sejak lahir sampai dengan pisah ranjang anak, makan bersama, main bersama, pasti ayah dan Ibu sudah punya kesimpulan tentang bakat dan minat anak. Arahan yang benar sejak awal dari orang tua akan ada kemudahan bagi anak dalam menuntut ilmu.

3. Zonasi

Semenjak diberlakukan Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) ada sekolah yang meningkat calon siswa dan banyak sekolah yang berebut siswa. Jika dalam satu kecamatan ada beberapa sekolah maka jelas calon siswa baru menurun disebabkan oleh sisa diluar kecamatan tidak boleh mendaftar. Donasi berlaku khusus untuk SMA, tidak berlaku bagi SMK dengan alasan program studi di SMK berbeda. Penerapan Zonasi bagi SMA tidak efektif,  terdapat kebocoran juga dengan dalih jalur prestasi dan faktor  lainnya. 

4. Branding sekolah yang tidak mengikuti tren.

Branding sekolah, keunggulan yang dimiliki sekolah. Keunggulan yang dimunculkan dan menjadi Tren pilihan calon siswa baru. Branding sekolah tidak lahir begitu saja, tetapi harus dikaji mendalam berdasarkan analisis kontek satuan pendidikan. Kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan perlu ditarik benang merahnya jangan abu-abu, dapat menyebabkan program unggulan sekolah tidak jalan. 

Tugas siapa untuk memunculkan branding sekolah?. Kepala sekolah sebagai pengambil kebijakan dan manajer harus dapat menggerakkan guru dan Tendik untuk merumuskan branding sekolah. Keunggulan sekolah dapat muncul sangat tergantung kepada penempatan pembina yang tepat. Kepala sekolah harus cerdas dalam penempatan staf untuk mengelola branding sekolah. 

Saya pada saat ini diamanatkan untuk memimpin dan sebagai koordinator guru dan Tendik di SMA N 7 Lhokseumawe akan memaksimalkan sumber daya yang ada untuk melahirkan branding sekolah. Upaya yang pertama saya lakukan adalah memaksimalkan sumber daya sarana dan prasarana, memaksimalkan sumber daya manusia, dan memaksimalkan sumber daya keuangan.

Air Bersih dan listrik sudah dimaksimalkan, karena itu kebutuhan mendasar untuk aksi pembenahan yang lain. Fasilitas pendukung lain yang sudah disiapkan adalah Website, aplikasi E-Rapor, Server dapodik, penambahan jaringan internet. Jaringan internet yang memadai akan berpengaruh kepada sistem berbasis digital yang akan dituju oleh SMA N 7 Lhokseumawe. Perpustakaan sebagai jantungnya satuan pendidikan, harus mendapatkan prioritas dalam penataan. Untuk itu Aplikasi perpustakaan berbasis internet (online) dan Pustaka digital sudah bisa melayani pengunjung. Perpustakaan sebagai sarana pendukung utama akan dijadikan sebagai branding sekolah. Unggul dalam pelayanan berbasis internet,  dan unggul menyajikan informasi secara digitalisasi, siswa, guru dan Tendik dapat mengunjungi perpustakaan melalui android dan komputer. Perpustakaan unggul sebagai pusat literasi, resensi buku oleh siswa merupakan program perpustakaan.

Mengapa sekolah swasta lebih fleksibel dan merdeka dalam menjalankan ekstrakurikuler. Sekolah boarding termasuk dayah terpadu juga memiliki keunggulan yang sangat bervariasi. SMK dengan berbagai prodi cukup menjadi alternatif bagi calon peserta didik baru. Keunggulan yang dimiliki oleh SMK lebih kepada program keahlian yang terintegrasi pada program studi.  Bisa saja salah satu SMK mengklaim satu-satunya SMK di Sumatera yang memiliki program studi teknik material misal. Berarti unggul dengan pembukaan prodi baru.

Terlepas dari keunggulan SMK disebabkan prodi, tetapi cukup besar peluang bagi SMA untuk mengadopsi keunggulan ekstrakurikuler yang dimiliki oleh sekolah lain. Jika sekarang tren dengan Tahfidzul Qur'an, SMA reguler bisa berpeluang Tahfidz sebagai branding sekolah. Banyak sekali ekstrakulikuler yang bisa dijadikan branding sekolah. Mengapa peluang tersebut terbuka lebar, SMA tidak terikat dengan prodi. Branding sekolah dapat dikembangkan melalui program ekstrakurikuler dan pengembangan diri bagi siswa kelas X. Branding bisa berubah tidak terikat mengikuti tren kekinian.

Branding yang kami munculkan di SMA Negeri 7 Lhokseumawe adalah:

1. Tahfidzul Qur'an;

2. Perpustakaan Digital;

3. Menjahit;

4. Menyulam Kasab Aceh dan 

5. Desain Grafis.

Kami juga tidak mengabaikan kegiatan lain baik akademik maupun ekstrakurikuler yang sudah berjalan seperti:

  1. Pramuka, PMR, 

  2. Kajian Islam melalui Rohis;

  3. Silat, Volly,Futsal,dan Atletik;

  4. Literasi;

  5. Kompetisi Sains Nasional (KSN);

      6. Da'i Muda;         

      7. Fls2n dan O2sn.                                                                             

Saya tidak menguraikan bagaimana dan teknis memulai branding per bidang dalam artikel ini, mungkin lebih spesial akan kita muat dalam artikel yang lain. Data siswa SMA N 7 Lhokseumawe memberikan informasi kepada kita bahwa tidak semua siswa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Fenomena ini juga berada di sekolah lain. Justeru itu kita harus memberi bekal kecakapan hidup buat mereka.  

Sampai di sini dulu,  ikuti terus guree.id, untuk mendapat informasi menarik lainnya.   Semoga bermanfaat.

3 Comments

  1. Berapa orang sudah calon siswa baru di SMA Negeri 7 Lhokseumawe.

    ReplyDelete
  2. Pengalaman sy mengjar di sekolah swasta ..keunggulan dpt dicapai selain keunggulan guru...yg tdk klh penting adalah pengembangan bakat dan minat siswa melalui ekskul...hmpir setiap tahun sy mmbawa siswa ke jkrt a utk lomba karya ilmiah remaja..
    Waktu sy membina ekskul bidang KIR..

    ReplyDelete