Menyamakan Persepsi Dalam Program Sekolah

 

Guree.id, Lhokseumawe, Merubah kebiasaan itu butuh proses, tidak gampang apalagi yang merubah itu program dari orang lain bukan keinginan sendiri. Bisa jadi program atasan atau program dari instansi  tempat kita bekerja. Sudah pasti konsekwensi dari suatu inovasi di lingkungan kerja menambah beban fisik dan mental. Ini terjadi karena sudah nyaman pada kondisi yang sudah menjadi kebiasaan walaupun belum memenuhi standarisasi. Supaya kondisi menjadi lebih baik, kita harus berani keluar dari zona nyaman selama ini. Banyak orang tidak setuju jika dalam sebuah rapat diambil keputusan yang bertolak belakang dengan pendapatnya. Tetapi jika forum 50+1 atau hasil musyawarah yang diputuskan itu sudah memenuhi korum, dengan demikian keputusan tersebut sudah milik bersama, artinya keputusan Lembaga. 

Sesama kolega tidak lagi kita mendengar, itu pendapat si A, si B tetapi yang ada adalah keputusan bersama yang harus dihormati dan kita jalankan bersama. Tidak lagi muncul itu program kepala sekolah, itu program waka kurikulum, itu program Ketua BEREH atau program Satuan Tugas COVID-19. Yang harus kita munculkan kepermukaan bahwa semua itu program sekolah. Banyak juga SK yang ditandatangani oleh Kepala sekolah tidak berfungsi sebagaimana job deskripsi. Pengalaman sering terjadi di SK tugas Non pokok, seperti kepanitiaan, BEREH, Satgas COVID-19 dan lainnya. 

Kolega Apatis

Ada juga model kolega kita yang 1/2 apatis dan bahkan apatis dengan rutinitas kegiatan sekolah. Tugas guru bukanlah mengajar saja tetapi tugas mulia guru adalah mendidik dan mengajar. Harapan dan tujuan dari tugas tersebut adanya perubahan sikap dan perilaku peserta didik kearah lebih baik. Peserta didik bisa menjadi insan yang mulia, insan yang berakhlak, jujur, cerdas, berpikir kritis, kreatif serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu adanya kesamaan persepsi dalam bahtera yang sama, jika tidak kapalnya bisa pecah. Semua kita, seluruh warga sekolah perlu penegakan disiplin diri sendiri dan penegakan disiplin bagi siswa. Disiplin untuk siswa harus sama perlakuannya dari kita, sehingga tidak muncul penilaian siswa terhadap sikap dan perilaku kita dalam membimbing dan menangani siswa. Sesama siswa diwaktu dan tempat berbeda mereka diskusi terhadap sikap dan perilaku serta kepribadian gurunya. Idealnya guru dapat menunjukkan sikap dan perilaku standar terhadap tata tertib dan kedisiplinan. 

Kerja bukan untuk atasan

Setiap kita punya batasan tanggungjawab, guru bertanggungjawab mutlak terhadap jalannya 4 standar pendidikan, yaitu Standar Kelulusan, Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian. Sebagai contoh dalam program tahunan dan program semester sudah direncanakan minggu efektif. Pertanyaannya adalah apakah benar efektif, mari evaluasi kembali terhadap keberadaan kita di kelas berapa hari Alpa, Sakit atau Izin. Karena kunci efektif dari keseluruhan program mulai dari kehadiran. Jika kehadiran efektif selanjutnya efektif Proses Belajar Mengajar. Kata efektif yaitu berdampak positif, dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak baik menjadi baik dan lebih baik. Efektifitas dalam bekerja berlaku bagi kita semua termasuk tendik. Waktu masuk tendik sama aturan buka sekolah, bagaimana bisa melayani siswa dan guru jika tendik telat datang. Tendik bukanlah pegawai kantoran reguler yang masuk pukul 8.00 Wib. tetapi tendik adalah tenaga kependidikan yang berada disekolah dan jam kerja berlaku ala sekolah. 

Jika semua itu bisa dijalankan dengan tulus dan ikhlas maka akan efektif. Ketulusan dan keikhlasan sudah ada, dapat dipastikan bahwa kerja kita bukan untuk atasan. Yang tepat kerja kita harus mengikuti sistem. Tim work yang  solid mutlak dibutuhkan dalam menjalankan program. Jika sebuah sistem sudah berjalan siapa pun pimpinan tidak selalu larut dalam situasional. Karena semua program direncanakan dan terukur, tidak dadakan.

Mari kita perkuat barisan, menyamakan persepsi, menyamakan misi untuk mencapai visi. Tetap semangat dalam berkarya dan selalu berkoordinasi sesuai jenjang. Tangani masalah tanpa masalah, sehingga membuahkan kebijakan yang menyenangkan semua pihak terutama peserta didik. Kerja bukan untuk atasan, tetapi kerja adalah ibadah. 

Terakhir sebagai motivasi diri, mari kita kerja ikhlas, cerdas dan tuntas

Semoga bermanfaat


0 Comments