Perbedaan AN Dengan UN

 

 


Guree.ID, Ada sebagian pendidik dan penyelenggaraan pendidikan mengatakan bahwa Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional. UN belum ada surat edaran atau Permendikbud untuk penghapusan.  Tahun 2020 dan 2021 UN ditiadakan karena Pandemi Covid-19, bukan berarti dihapus. Kelulusan siswa sepenuhnya diserahkan kepada sekolah yang diputuskan melalui rapat dewan guru. Bisa jadi jika situasi sudah normal dari COVID-19 akan ada pengganti UN Nasional dengan format dan sistem penilaian lebih komprehensif dan lebih mengarah kepada Asesmen Kompetensi Minimal (AKM).

 Apa perbedaan Asesmen Nasional (AN) dan Ujian Nasional (UN).

AN diukur oleh Pemerintah untuk pemetaan mutu sekolah bidang mana yang masih lemah, dan perlu diintervensi untuk mencapai standar yang telah ditetapkan. AN tidak menguji person siswa tetapi siswa yang terpilih saha secara acak dari dapodik sebanyak 45 orang dan 5 orang siswa sebagai cadangan. AN ada angket untuk guru dan kepala sekolah. AN menguji tiga ranah yaitu:

1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), mengukur Literasi membaca dan Numerik sebagai hasil belajar kognitif siswa,

2. Survey Karakter, mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai (values) sebagai hasil belajar non kognitif dan,

3. Survey Lingkungan belajar, mengukur kualitas pembelajaran dan ikluim sekolah yang menunjang pembelajaran.  sedangkan Ujian Nasional menguji personal siswa dan syarat kelulusan, artinya mengikuti ujian nasional tetapi tidak menjadi kriteria lulus berkenaan nilai yang diperoleh.

Apa yang diuji dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM)?. Yang perlu digaris dibawahi bahwa AKM bukanlah mata pelajaran tetapi bisa semua mata pelajaran. Memang namanya AKM Literasi dan Numerasi, bukan berarti bidang bahasa dan Matematika saja. Jangan pernah berpikir bahwa literasi dan Numerasi milik guru bahasa dan matematika. Semua guru harus tahu literasi dan Numerasi dan bisa menuangkan dalam bentuk soal mata pelajaran masing-masing. Kalau dulu sewaktu ikut UMPTN namanya seperti IPA terpadu begitulah kiranya dengan AKM ini lebih luas.

Seorang anak tidak bisa menjawab soal mata pelajaran bukan karena ia tidak bisa berhitung, tetapi lebih kepada ia tidak memahami isi pertanyaan. Ini sering terjadi pada pelajaran IPA. Membaca seharusnya mengerti apa yang ia baca. Bagaimana seseorang bisa menyelesaikan suatu persoalan jika tidak tahu soalnya apa. Kondisi ini jangan disalahkan guru bahasa. Tetapi semua kita ikut bertanggung jawab untuk membangkitkan daya nalar siswa.  tugas semua kita sebagai guru untuk membangkitkan daya nalar siswa. Mengajak siswa untuk berpikir, bukan menghafal. AN akan dilaksanakan pada bulan September dan Oktober Jadwal bisa dilihat pada tabel berikut:


Satu hari kami bersama Pak Jhon Abdi, M.Pd beliau adalah fasilitator Direktorat SMA, banyak hal yang dapat membuka wawasan kami tentang AN. Ada pertanyaan peserta, AKM untuk mata pelajaran Kimia, Biologi mana pak.  Untuk khusus mata pelajaran tidak ada, tetapi AKM masuk semua mata pelajaran, dan AKM bukan mata pelajaran. Banyak hal yang dibahas tentang pengembangan Soal AKM, untuk menemukan bahwa AKM ada di setiap mata pelajaran harus didalami lagi materi AKM. Walaupun Sekolah tidak perlu ada persiapan khusus untuk menghadapi AN, namun pemahaman dan pendalaman materi AN bagi guru sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran yang berdampak kepada pola pikir dan daya nalar peserta didik. Untuk mendapatkan jawaban sebuah persoalan tidak hanya satu solusi yang diberikan. Sebagai contoh pemecahan masalah pada jembatan Konigsberg dalam pada teori Graf.  


Tulisan ini hanya untuk menjadi bahan motivasi bagi penulis sendiri dan pembaca umumnya, yang bertujuan untuk menyamakan persepsi tentang AN. 

Demikian dan terimakasih.

Disarankan:

Perkembangan Informasi Asesmen Nasional

Pengembangan Soal AKM Literasi Membaca

0 Comments