GUREE.ID, LHOKSEUMAWE,  18 Desember 2020,  Kata Perundungan mungkin lebih asing ditelinga kita jika  dibandingkan dengan mengejek atau  bullying. Apabila ada  warga sekolah yang menyakiti, menyinggung baik secara verbal, fisik atau perilaku dan sikap terhadap siswa itu disebut melakukan perundungan. Ternyata hasil survey pada informasi di atas, siswa Indonesia mengalami perundungan mencapai 41%, ini sangat berpengaruh terhadap motivasi berliterasi. 


Untuk hal membully, yang paling kecil pun bisa mempengaruhi psikologis siswa.  Tidak semua mental siswa dalam kategori stabil dan tahan terhadap lingkungan pembelajaran yang kurang nyaman, nyaman itu relatif juga walaupun ada standar. Bisa jadi nyaman bagi siswa yang satu, belum tentu nyaman bagi siswa yang lain. Contohnya begini, ada siswa yang tipe penurut dan baik, tidak mengganggu dan berusaha juga supaya tidak diganggu. Suatu hari terjadi ketidak sengajaan terganggu siswa lain, maka ia langsung minta maaf, dan apa yang terjadi serta merta temannya berucap yang tidak pantas, pada hal persoalan sangat kecil. Akibat seperti itu, siswa yang meminta maaf merasa tidak nyaman jika belum dimaafkan. 


Perundungan tidak saja antara siswa, bisa juga guru dengan siswa atau warga sekolah. Dalam memanggil nama siswa saja, jika nama bukan sebenarnya juga bisa menyebabkan seseorang tidak nyaman. Padahal itu biasa, menurut siapa dan cara pandang siapa. Sekecil apapun bentuk perundungan tidak boleh terjadi, harus dicegah dan berikan pencerahan kepada seluruh warga sekolah. Kenyamanan lingkungan belajar menjadi tanggung jawab seluruh warga sekolah dalam memeliharanya.


Siswa yang mengalami perundungan memiliki skor 21 poin lebih rendah dalam membaca.  Angka yang harus mendapat perhatian serius dari pengelola sekolah. Bagaimana cara siswa Indonesia dapat mensejajarkan diri dalam berliterasi dengan siswa lain di Dunia. Ternyata sangat komplek masalah, itu baru variabel perundungan. Belum lagi kita melirik ke variabel ekonomi, sosial, Keluarga dan banyak sekali sub variabel lain yang mempengaruhi rendahnya minat literasi siswa Indonesia. 


Menarik untuk kita diskusi lebih lanjut, silahkan sahabat berikan komentar dan masukan. 

Sumber: 
Materi Sosialisasi Asesmen Nasional Kemdikbud