GUREE.ID,LHOKSEUMAWE, 9 Desember 2020, Asesmen Nasional bertujuan mengukur mutu Pendidikan. Pengukuran berikutnya dalam Asesmen Nasional setelah AKM literasi membaca dan numerasi adalah Survei Karakter, yaitu mengukur sikap,Kebiasaan  nilai-nilai (values)  sebagai hasil belajar non kognitif. Mengapa karakter ini penting,  Karakter dasar bangsa Indonesia Religius, Integritas, Mandiri, Nasionalis, dan Gotong Royong. Dalam Asesmen Nasional karakter dimaksud Profil Pelajar pancasila seperti berikut:

Profil Pelajar pancasila sejalan dengan fungsi dan tujuan pendidikan  Nasional yang termaktub dalam sisdiknas 2003 yaitu:

Perbedaan yang sangat mendasar kurikulum 13 dengan kurikulum KTSP adalah pada ranah penilaian. Ranah Penilaian Kurikulum 13 yaitu ranah Sikap, ranah Kognitif dan ranah Keterampilan. Pertama berlaku K13, sikap/perilaku dinilai oleh semua guru mata pelajaran secara autentik. Tetapi dalam perkembangannya karena dianggap merepotkan guru maka yang wajib menilai langsung sikap adalah guru Pendidikan Agama dan Guru PPKn.

BACA JUGA ARTIKEL TERKAIT :

ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM

Nilai sikap bisa menjadi kriteria kenaikan kelas dan kelulusan siswa. Seorang siswa mau naik kelas atau lulus harus memiliki nilai sikap minimal B. Kriteria ini perlu kita lestarikan dan harus ada komitmen dalam pelaksanaannya. Karena sikap dan perilaku tidak bisa remedial maka angka mati bagi peserta didik. Untuk itu karakter dalam mendidik perlu dikuatkan bagi guru, dengan harapan menjadi penguatan karakter siswa.

AN sebagai penunjuk arah tujuan dan praktik pelajaran. Apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, pengembangan karakter dan kompetensi siswa. Karakteristik sekolah tergambar dengan jelas melalui Asesmen Nasional. Apakah sekolah memiliki ciri pengajaran yang baik, iklim akademik yang baik, sosial dan keamanan yang kondusif. Asesmen Nasional membantu sekolah lebih memahami apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pembelajaran. 

Membentuk karakter yang baik menjadi pembiasaan di lingkungan sekolah akan membankitkan semangat siswa untuk belajar. Menghasilkan Peserta didik yang beriman, kreatif, Mandiri, Gotong royong, bernalar tinggi dan berkebinekaan global  membutuhkan proses, tidak semudah membalik telapak tangan. Itu bukan produk baru yang kita capai, tetapi terjadi sedikit pergeseran nilai action kita selalu guru dalam menjalankan fungsi sebagai guru. Guru adalah pendidik bukan pengajar, seni menggugah minat siswa untuk belajar ada pada guru. Kalau guru hanya mentransfer knowledge saja, siswa pun akan belajar sebatas untuk mendapatkan nilai kognitif, akhirnya pincang tanpa diimbangi dengan sikap dan keterampilan. 

Saya mengajak diri saya sendiri dan sahabat guru semua, janganlah pernah bosan untuk menyuarakan kebaikan,  menjadi teladan kebaikan terutama pembentukan karakter peserta didik. Kadangkala guru itu sebagai reporter tidak mengapa, terus bersuara dan berdoa semoga ada perubahan yang signifikan sikap dan perilaku peserta didik.